Sergai – MBS – Polemik penutupan saluran irigasi di Desa Sei Rejo Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) Yanto, selaku yang menutup saluran irigasi, dan telah naik berita di Media online, angkat bicara karena merasa tak sesuai dengan apa yang terjadi dengan yang sebenarnya menurutnya, Sabtu (17/01/2026).
Hal tersebut disampaikan Yanto kepada awak Media di kediamannya di Dusun III Desa Sei Rejo, pada hari Sabtu 17 Januari, maaf bang apa yang ada didalam berita online itu nggak sesuai menurut saya bang, awalnya saya membuat dinding tembok untuk pagar rumah saya diatas leningan tersebut, namun ketua P3A yang bernama Sasrianto, menegur kok membangun tembok pagar di atas leningan, jadi tolong digeser nggak boleh di atas leningan tersebut, jadi saya jawab dengan setengah protes, kan saya membangun diatas tanah saya sendiri dan dibuktikan dengan dasar ada sertifikat tanah saya, lagian juga ketika membangun leningan tersebut diatas tanah saya, tidak ada pihak yang meminta izin atau setidaknya adalah pengomongan permisi dengan saya bang.
Saluran ini saya tutup, karena perintah Sasrianto dengan mengatakan, ” kalo mau di tutup ya tutup karena saya tidak ada keuntungan dan kepentingan karena saya tidak ada berladang disitu” makanya saya tutup bang.
Dan saya tidak pernah menyuruh Sasrianto untuk minta maaf kepada saya biar masalah ini selesai, makanya saya terkejut dan saya mau tau siapa masyarakat yang menyampaikan seperti itu, ditambah lagi saya minta sewa sebesar 5 juta per musim, yang ada merekalah (kelompok tani) yang menawarkan bukan saya, seandainya pun dikasih itu akan saya sumbangkan ke Mesjid, karena saya masih mampu untuk menafkahi keluarga saya bang, ” Ungkap Yanto.”
Dan ketika ditanya awak Media, jadi apalah bang solusinya dari abang agar masalah ini biar selesai, untuk saat ini belum ada bang, karena saya merasa tersinggung dengan bahasanya Sasrianto tersebut, meskipun begitu kami akan duduk ngopi bersama dengan kelompok tani tapi tidak semua, untuk membahas ini, karena ada juga ataupun sebagian besar kelompok tani, agar supaya Sasrianto itu diganti, bang, ” Tutup Yanto.’
Guna mendapatkan berita yang berimbang, awak Media coba konfirmasi ke Sasrianto melalui via Whatsapp nya, guna menanyakan apa sebenarnya yang terjadi, Sasrianto menjawab bahwa ada tiga poin yang saya sampaikan pada mediasi pertama dikantor Desa yaitu ;
1. Sepengetahuan saya sebagai ketua P3A dan ketua GP3A dimana-mana tidak ada bangunan diatas top lening.
2. Sepengetahuan saya bila sebuah saluran sudah dibangun oleh pemerintah berarti itu sudah menjadi aset pemerintah.
3. Kalau ditanya kepentingan pribadi saya memang tidak ada punya kepentingan pribadi yang ada adalah kepentingan banyak orang yakni para petani.
Dan perlu saya sampaikan disini bahwa pada mediasi pertama dikantor Desa yang juga dihadiri oleh Babinsa dan Bhabinkamtibmas, saya membantah bahwa saya tidak pernah mengatakan pagar itu yang dibangun oleh Yanto untuk digeser ataupun dibongkar, “Jelas Sasrianto.”
Menyimak dari yang disampaikan dari dua nara sumber tersebut, sepertinya publik bisa menilai itu sebenarnya hanyalah masalah sepele dan bisa dibilang miskomunikasi, namun menjadi panjang apalagi sudah dilakukan beberapa kali mediasi di kantor Desa namun tidak juga selesai, diduga kuat ada yang menunggangi kekisruhan tersebut guna untuk menyingkirkan Sasrianto selaku ketua P3A Desa Sei Rejo, tentu hal tersebut menjadi bola panas bagi Kepala Desa Sei Rejo, guna menyelesaikan masalah tersebut dengan sebaik-baiknya. (Syahrial).









