Jeritan Hati Pantan Nangka : Lansia Sakit dan ODGJ Terabaikan, Huntara Tidak Kunjung Hadir.

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Takengon — MBS

Kondisi penanganan pascabencana di Pantan Nangka menuai sorotan serius. 11 Warga yang terdampak (Rumah Hanyut) dan 4 warga rentan yang rumahnya rusak Berat akibat bencana hingga kini belum mendapatkan solusi hunian yang layak.

Program hunian sementara (huntara) yang seharusnya menjadi jawaban cepat justru belum dirasakan oleh mereka yang paling membutuhkan.4 warga tersebut adalah 1.Murni (70 Tahun), seorang janda lanjut usia yang sakit-sakitan, 2. Erdiyanto, seorang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
3.Sangkardi sakit lumpu,4.Katiem 75 tahun usus buntu,5.tumirah 80 tahun hilang ingatan/pikun, Ke lima warga tersebut hidup dalam keterbatasan, tanpa kepastian tempat tinggal yang aman pascabencana.

Aharuddin, tokoh masyarakat Pantan Nangka, menyebut kondisi ini sebagai potret kelalaian dalam penanganan korban bencana, khususnya terhadap kelompok rentan.“Ini menyakitkan. Kita bicara pemulihan bencana, tapi di lapangan justru lansia sakit dan ODGJ yang rumahnya rusak tidak mendapat perhatian. Kalau mereka saja terlewat, berarti ada yang salah secara serius,” ujar Aharuddin.

Menurut Aharuddin, Murni dan Erdiyanto juga Katiem seharusnya menjadi prioritas utama dalam program huntara, bukan justru tertinggal dari daftar penerima bantuan.“Mereka tidak punya kemampuan untuk memperjuangkan haknya sendiri. Negara dan pemerintah daerah harus hadir lebih dulu untuk warga seperti ini, bukan menunggu mereka bersuara,” tegasnya.

Ia juga menyoroti ketimpangan antara laporan penanganan bencana dan realitas di lapangan.Aharuddin menilai program huntara di Pantan Nangka jauh dari harapan masyarakat.“Di atas kertas seolah semuanya berjalan, tapi kenyataannya warga masih bertahan di rumah rusak. Huntara yang dijanjikan belum jelas kapan dan untuk siapa,” katanya.

Aharuddin mendesak pemerintah daerah dan instansi teknis terkait untuk segera melakukan verifikasi ulang data korban, turun langsung ke lokasi, serta memastikan penanganan berbasis kemanusiaan, bukan sekadar administrasi.“Ini bukan soal proyek atau seremonial. Ini soal keselamatan dan martabat manusia. Jangan sampai jeritan hati warga Pantan Nangka hanya menjadi angka dalam laporan,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan,belum ada pernyataan resmi dari instansi terkait mengenai kepastian pembangunan huntara 11 Warga Pantan Nangka dan dua warga tersebut.

Berita Terkait

Ribuan Warga NU Padati Belitang, Harlah 1 Abad Jadi Lautan Doa Dan Persatuan
Pemkab Taput Serahkan Bantuan Sosial Kepada Korban Kebakaran di Sigotom Kecamatan Pangaribuan .
Desa Marbun Toruan Bakkara Menuju Wisata Kampung Nelayan di Masa Depan .
Siaga Banjir, Polsek Lohbener Monitoring Debit Air Sungai Cimanuk
Turun Bersihkan Saluran Air Bareng Warga, Aksi Kapolsek Kedokanbunder Tuai Pujian Warganet
Ini Daftar Juara Story Telling Competition 2026, Dava Dwi Arkara Resmi Dinobatkan Duta English Area
Bhabinkamtibmas Polsek Cantigi Sambangi Warga, Sampaikan Imbauan Kamtibmas Secara Humanis
Polsek Gabuswetan Intensifkan Patroli dan Sambang Warga, Jaga Kondusifitas Wilayah

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:01 WIB

Jeritan Hati Pantan Nangka : Lansia Sakit dan ODGJ Terabaikan, Huntara Tidak Kunjung Hadir.

Senin, 2 Februari 2026 - 16:29 WIB

Ribuan Warga NU Padati Belitang, Harlah 1 Abad Jadi Lautan Doa Dan Persatuan

Kamis, 29 Januari 2026 - 11:11 WIB

Pemkab Taput Serahkan Bantuan Sosial Kepada Korban Kebakaran di Sigotom Kecamatan Pangaribuan .

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:11 WIB

Desa Marbun Toruan Bakkara Menuju Wisata Kampung Nelayan di Masa Depan .

Senin, 26 Januari 2026 - 13:21 WIB

Siaga Banjir, Polsek Lohbener Monitoring Debit Air Sungai Cimanuk

Berita Terbaru