ACEH UTARA – Mbs.com
Jeritan warga terdampak kembali terdengar. Kali ini bukan soal banjir, bukan pula soal bantuan yang belum cair, tetapi tentang debu jalan yang setiap hari mereka hirup tanpa henti.
Pasca banjir, banyak ruas jalan mengering dan berubah menjadi hamparan debu tebal. Setiap kendaraan melintas, kepulan debu membumbung tinggi, masuk ke rumah-rumah, menempel di perabot, bahkan terhirup oleh anak-anak dan lansia.

“Jangan biarkan kami mati dengan kepungan debu di jalan,” keluh seorang warga Desa Rumoh Rayeuk Kecamatan Langkahan,Aceh Utara dengan nada getir.
Amatan Media Jum’at(13/2/2026),debu tak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga mengancam kesehatan. Batuk, sesak napas, dan iritasi mata mulai dirasakan sebagian warga. Ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah upaya masyarakat bangkit dari dampak bencana sebelumnya.
Warga berharap ada langkah cepat dari pemerintah daerah, seperti penyiraman rutin jalan, pengerasan sementara, atau percepatan perbaikan permanen. Bagi mereka, ini bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan hak untuk menghirup udara yang layak.
Setelah dihantam banjir, kini mereka harus bertahan dalam kepungan debu. Warga hanya meminta satu hal: jangan biarkan penderitaan ini berlarut, jangan biarkan debu menjadi ancaman baru bagi keselamatan dan kesehatan mereka.
(pak nek)










