MITRA MABES.COM// Palembang – Di tengah gencarnya pembangunan Kota Palembang, satu ruas jalan di Kelurahan Ogan Baru, Kecamatan Kertapati, justru seolah dilupakan negara. Jalan LR Santai, akses utama warga, kini tak ubahnya kubangan lumpur dan kolam banjir yang menganga setiap hari,Kamis(22/1/2026).
Lubang menganga, badan jalan hancur, dan genangan air pasang menjadi pemandangan rutin dari ujung depan hingga belakang lorong, termasuk jalur menuju masjid. Kondisi memprihatinkan ini bukan terjadi setahun dua tahun, melainkan sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa sentuhan nyata dari pemerintah.
Saat air pasang naik, jalan benar-benar “hilang”. Anak-anak sekolah harus ekstra hati-hati agar tidak terjatuh. Warga dewasa terpaksa menggulung celana. Jamaah masjid kerap mengangkat sarung demi bisa beribadah. Akses pendidikan, ekonomi, dan ibadah dipertaruhkan setiap hari.
Ironisnya, jalan ini selalu masuk dalam usulan Musrenbang Kelurahan setiap tahun. Namun hingga memasuki tahun 2026, hasilnya nol besar. Tidak ada perbaikan, tidak ada pengerjaan, bahkan sekadar penimbunan darurat pun tak pernah terlihat.
Ketua RT setempat, Jhony Antony, menegaskan bahwa pihak lingkungan telah menjalankan kewajiban secara administratif.

“Sebagai RT, tugas kami mengusulkan, dan itu sudah kami lakukan setiap tahun lewat Musrenbang. Tapi soal realisasi, itu kewenangan Pemkot Palembang, khususnya Dinas Perkimtan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menampar kesadaran publik: aspirasi warga seolah berhenti di meja rapat, sementara realita di lapangan terus memburuk. Warga pun mulai bertanya dengan nada kecewa, apakah Musrenbang hanya ritual tahunan tanpa roh keberpihakan?
Padahal Jalan LR Santai bukan jalan mati. Ini adalah urat nadi Lorong Santai—jalur utama warga mencari nafkah, menyekolahkan anak, dan beribadah. Namun hingga kini, warga merasa tertinggal dan tidak dianggap dalam peta pembangunan kota.
Warga berharap Pemkot Palembang tidak hanya menerima laporan di balik meja, tetapi turun langsung melihat sendiri jalan yang “tenggelam” ini. Jangan sampai bukan hanya jalan yang rusak, tapi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah ikut hancur dan tenggelam bersama air pasang.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka pertanyaan warga menjadi sangat wajar dan sah untuk diajukan:
Apakah pembangunan Kota Palembang hanya berputar di pusat kota, sementara pinggiran dibiarkan rusak, tenggelam, dan dilupakan?
Warga Lorong Santai tidak meminta janji—mereka hanya berharap satu hal sederhana: jalan dibangun, agar kehidupan bisa berjalan normal.
(JA)










