“Hasil Lab Dari DLH Sergai Telah Keluar, Namun Belum Dipublikasikan, Diduga Ada Skenario.”

Selasa, 10 Februari 2026 - 08:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sergai –  MBS – Kasus banyaknya ditemukan ikan yang mati di parit Perkebunan Tanah Raja hingga ke sungai Liberia pada beberapa minggu yang lalu terus menuai sorotan publik, terutama setelah hasil laboratorium sampel dari limbah kilang ubi milik Galiong/Amin yang berada di Dusun 5 Kampung Pulo dan milik Cunglai yang dijalankan oleh Badol yang berada di Dusun 6 Kampung Padang Desa Simpang Empat Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Sedang Bedagai (Sergai), dikabarkan telah keluar, namun belum bisa di publikasikan, dengan alasan masih dalam tahap penyelidikan lebih lanjut, Selasa (10/02/2026).
Guna memastikan kapan keluar hasil laboratoriumnya, awak Media coba konfirmasi ke Reja Kadis Lingkungan Hidup Sergai, melalui via WhatsApp nya, pada hari Senin 09 FeFebruari, Reja menjawab, ” Coba abang tanya Kabid Boy ya bang, harusnya minggu ini ya bang.”
Kemudian awak Media chat Boy Kabid PKPLH, guna menanyakan hasil laboratoriumnya, kemudian awak Media disuruh kekantor nya, guna dijelaskan mengenai hasil laboratoriumnya, dan dalam pertemuan tersebut, Boy mengatakan, bahwasanya hasil laboratoriumnya sudah keluar, namun belum bisa dipublikasikan dengan alasan masih dalam penyelidikan oleh pihak kepolisian (Polres), karena tindakan laboratorium ini berdasarkan surat permintaan dari pihak Polres (Unit Tipidter) yang juga berdasarkan laporan dari seseorang yang berinisial F, berdomisili di Perbaungan dan pekerjaan sebagai pengacara, yang melaporkannya pada tanggal 19 Januari pukul 10.00 Wib.
Tentu hal ini sangat mengejutkan awak Media, karena di last minit atau di akhir penantian hasil laboratoriumnya belum bisa dipublikasikan, dengan alasan masih dalam penyelidikan kepolisian berdasarkan laporan F, warga Perbaungan, dan ini tidak pernah disampaikan oleh pihak DLH dan juga pihak Polres sebelumnya, sementara yang awak Media ketahui itu semua berkat laporan Pemdes Liberia sesuai dengan konfirmasi awak Media ke Kades Liberia dan ada didalam pemberitaan media online.
Kemudian awak Media mengatakan, kok sepertinya seolah-olah udah di setting atau diskenariokan ya pak Kabid, karena mengapa di akhir penantian publik akan hasil laboratoriumnya kok jadi seperti ini, itu sih sah – sah saja, abang berasumsi seperti itu, yang pasti kami bekerja sesuai dengan aturan yaitu sesuai dengan permintaan dari pihak Polres berdasarkan laporan seseorang, “Jawab Boy.”

Tentu hal tersebut membuat publik curiga, yang diduga adanya “skenario” atau upaya penutupan kasus. Dan publik menilai penundaan ini sangat aneh, mengingat dampak pencemaran ekosistem air yang nyata dilapangan, seperti dengan ditemukannya ikan banyak yang mati dari sungai Liberia hingga ke hulu dan parit perkebunan Kebun Tanah Raja.
Penundaan publikasi hasil laboratorium juga bisa membuat publik menduga dengan diduga adanya intervensi dari pihak kilang ubi dan juga diduga memanipulasi dari hasil laboratorium yang seharusnya bisa segera dibuka untuk mengetahui apa penyebab pasti dari kematian ikan di parit perkebunan hingga ke sungai Liberia biar jelas dan tidak menjadi spekulasi bagi publik, namun dengan ditundanya publikasi dari hasil laboratorium tersebut membuat kecurigaan publik menjadi kuat dengan dugaan adanya skenario dalam kasus ini.
Semoga dengan adanya penundaan publikasi dari hasil laboratorium yang telah keluar, publik masyarakat luas akan lebih fokus dan jeli dalam mengawal kasus ini sehingga tidak ada manipulasi hasil dari laboratorium tersebut, dan tidak ada yang ditutupi yang bisa mengakibatkan kerugian pada pihak lainnya, karena jika hasil laboratoriumnya menyatakan bukan dari limbah kedua kilang ubi tersebut, melainkan karena faktor lain, tentu pihak DLH harus menjelaskan karena faktor apa yang membuat ikan itu bisa mati.
Namun sebaliknya, jika terbukti karena limbah dari kedua kilang ubi tersebut, tentu harus diproses secara hukum baik pidana maupun perdata, hingga penutupan paksa dari kedua kilang ubi tersebut, agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan lagi yang bisa mengakibatkan kerusakan ekosistem air yang lebih parah lagi. (Syahrial).

Berita Terkait

Proyek Sumur Bor Irigasi Tanah Dangkal di Sei Rejo Diduga Jadi Bancakan Korupsi dan Tidak Efektif, Dedy Iskandar Kadis Pertanian Bungkam Saat Dikonfirmasi.
Proyek Pengadaan Pintu Air Irigasi di Desa Sei Rejo Terlihat Asal Jadi dan Diduga Tidak Sesuai Spesifikasi.
Pengadaan Sumur Pompa Irigasi Tanah Dangkal di Desa Sei Rejo Diduga di Korupsi dan Tidak Efektif Sehingga Menjadi Proyek Sia – sia.
Proyek Pengerjaan Sekolah Rakyat di Sergai Diduga Menggunakan Solar Subsidi.
Kebun Adolina Diduga Tidak Serius dan Tanggap Dalam Menyikapi Permentan No.18 Tahun 2021 Tentang FPKM.
Kilang Ubi yang Diduga Limbahnya Mencemari Sungai Liberia Diduga Menggunakan Kaporit.
Diduga Adanya Sarat Kepentingan Dalam Masalah Penutupan Saluran Irigasi Sepihak di Sei Rejo Sehingga Membuat Permasalahan Tersebut Tidak Kunjung Selesai.
Ada Apa Dibalik Polemik Penutupan Saluran Aliran Irigasi Sepihak di Desa Sei Rejo yang Tak Kunjung Selesai.

Berita Terkait

Selasa, 10 Februari 2026 - 08:46 WIB

“Hasil Lab Dari DLH Sergai Telah Keluar, Namun Belum Dipublikasikan, Diduga Ada Skenario.”

Senin, 9 Februari 2026 - 08:20 WIB

Proyek Sumur Bor Irigasi Tanah Dangkal di Sei Rejo Diduga Jadi Bancakan Korupsi dan Tidak Efektif, Dedy Iskandar Kadis Pertanian Bungkam Saat Dikonfirmasi.

Jumat, 6 Februari 2026 - 16:15 WIB

Proyek Pengadaan Pintu Air Irigasi di Desa Sei Rejo Terlihat Asal Jadi dan Diduga Tidak Sesuai Spesifikasi.

Jumat, 6 Februari 2026 - 13:46 WIB

Pengadaan Sumur Pompa Irigasi Tanah Dangkal di Desa Sei Rejo Diduga di Korupsi dan Tidak Efektif Sehingga Menjadi Proyek Sia – sia.

Rabu, 4 Februari 2026 - 21:15 WIB

Proyek Pengerjaan Sekolah Rakyat di Sergai Diduga Menggunakan Solar Subsidi.

Berita Terbaru