Aceh Timur,MitraMabes.com
Bantuan kemanusiaan itu tidak berhenti di satu titik. Dari Gampong Buket Bata, Buket Kareung, Seuneubok Tuha, Seuneubok Saboh, Pante Rambong, hingga Pante Labu, jejak kepedulian Azhari M Nur—yang akrab disapa Haji Maop—terhampar mengikuti alur luka yang ditinggalkan banjir besar di Kecamatan Pante Bidari.
Pagi itu, lumpur masih menempel di kaki-kaki warga Gampong Pante Rambong. Bau tanah basah bercampur sisa banjir menyelimuti udara. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, seorang lelaki datang tanpa pengeras suara, tanpa baliho, tanpa iring-iringan. Ia melangkah perlahan, menyapa warga satu per satu, seolah ingin memastikan: “Saya benar-benar hadir.”
Dialah Azhari M Nur (Haji Maop), Anggota DPRA periode 2024–2029. Bagi warga Pante Bidari, ia tidak datang sebagai pejabat, melainkan sebagai manusia—yang memilih menempuh jalur sunyi kemanusiaan, mendatangi langsung gampong-gampong terdampak, dari pesisir hingga pedalaman.

Haji Maop tidak langsung menyerahkan bantuan. Ia memilih duduk di bangku kayu dapur umum, berbincang dengan relawan, mendengar cerita ibu-ibu yang kehilangan perabot rumah tangga, dan menepuk pundak warga yang masih menyimpan trauma. Baginya, bencana bukan sekadar angka kerugian, tetapi wajah-wajah lelah yang butuh dikuatkan.
Di dapur umum itulah denyut kehidupan masih bertahan. Asap mengepul dari tungku sederhana. Para relawan memasak dengan bahan seadanya—beras, ikan, dan sayur hasil sumbangan masyarakat. Dapur ini tidak berdiri karena sistem bantuan yang mapan, melainkan karena gotong royong: rakyat menolong rakyat.
Ridwan, koordinator dapur umum Gampong Pante Rambong, masih mengingat jelas momen kedatangan Haji Maop.
“Beliau tidak datang sekadar melihat. Beliau bertanya, besok kami masih bisa memasak atau tidak. Itu pertanyaan yang sangat jujur, ujarnya.
Pertanyaan itu terasa dalam bagi para relawan. Sebab dapur umum bertahan hari demi hari tanpa kepastian. Hari ini ada beras, besok belum tentu. Namun semangat tetap menyala, karena mereka percaya: selama masih ada yang peduli, dapur ini tidak boleh mati.
Haji Maop memahami kegelisahan itu. Ia menyerahkan bantuan kebutuhan pokok, namun lebih dari itu, ia menghadirkan empati. Ia tidak melontarkan janji besar. Ia hanya memastikan satu hal: masyarakat tidak merasa ditinggalkan.
“Apa yang kami bawa mungkin tidak besar. Tapi kehadiran itu penting. Masyarakat harus tahu bahwa mereka tidak sendiri, katanya pelan.
Di sela kunjungan, Haji Maop juga menyempatkan diri berbincang dengan anak-anak pengungsi. Sebagian masih takut saat hujan turun, sebagian sulit tidur di malam hari. Trauma itu nyata—luka yang tak selalu terlihat, namun membekas lama.
Camat Pante Bidari, Darkasyi, SE, menilai kehadiran langsung seperti ini memberi dampak besar bagi warga.
“Bukan hanya bantuan materi. Kehadiran di lapangan memberi kekuatan moril. Ini yang paling dibutuhkan saat kondisi belum normal, ujarnya.
Banjir telah merusak rumah, kebun, dan harapan banyak keluarga di Buket Bata, Buket Kareung, Seuneubok Tuha, Seuneubok Saboh, Pante Rambong, hingga Pante Labu. Di tengah keterbatasan respons dan lambannya pemulihan, solidaritas sosial menjadi penyangga utama kehidupan.
Di antara lumpur yang belum kering, langkah Haji Maop menjadi bagian dari cerita itu—cerita tentang kepedulian yang tidak menunggu segalanya sempurna, tentang kehadiran yang lebih bermakna daripada pidato panjang.
Saat ia pamit meninggalkan dapur umum, tak ada tepuk tangan, tak ada sorotan kamera berlebihan. Hanya lambaian tangan warga dan harapan sederhana: semoga bantuan terus mengalir, dan kehidupan perlahan kembali pulih.
Di Pante Bidari, Haji Maop tidak sedang membangun citra. Ia sedang berjalan di jalan sunyi kemanusiaan—jalan yang jarang disorot, tetapi paling dirasakan oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.
(Pak nek)










