Bupati Lampung Tengah yang Terjaring OTT KPK,Belum Genap Setahun  Menjabat

Senin, 15 Desember 2025 - 06:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lampung Tengah Mitra Mabes.Com –Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak berhenti pada penangkapan Ardito Wijaya dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang mengguncang jantung kekuasaan Lampung Tengah. Uang suap senilai Rp5,75 miliar yang disita kini menjadi kunci utama untuk membuka tabir gelap dugaan praktik politik uang di balik Pilkada 2024.

Lembaga antirasuah memastikan penyelidikan akan diperluas. Dengan strategi follow the money, KPK bertekad menelusuri setiap rupiah dari mana uang itu berasal, ke mana mengalir, dan untuk kepentingan apa digunakan.

Arah penyelidikan kini tak lagi sempit. Lingkaran politik Ardito mulai masuk radar, termasuk tim pemenangan hingga partai politik yang mengusungnya.

“Kita akan menelusuri dengan metode follow the money, bagaimana uang yang diterima asalnya dari mana, kemudian larinya ke mana, digunakan untuk apa. Tidak tertutup kemungkinan ada sebagian sudah digunakan untuk kepentingan politik yang lain,”

tegas Plh Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Mungki Hadipratikto, di Gedung Merah Putih, Jakarta, Kamis (11/12/2025).

Pernyataan itu menjadi penanda: penyelidikan belum mencapai puncaknya. Dugaan bahwa uang suap digunakan untuk menutup utang kampanye dan menggerakkan mesin politik Pilkada kini menjadi fokus utama penyidik.

Untuk menelusuri jejak tersebut, KPK menggandeng PPATK dan pihak perbankan, menyisir transaksi mencurigakan yang diduga melibatkan sejumlah tokoh politik di Lampung.

Skema Busuk di Balik Proyek Pemerintah

Baru beberapa bulan menjabat sebagai bupati, Ardito diduga langsung merancang skema pengaturan proyek di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah. Melalui sistem e-Katalog, proyek-proyek strategis diarahkan agar hanya dimenangkan perusahaan yang terafiliasi dengan keluarga dan tim pemenangan.

Sebagai imbalan, Ardito disebut mematok fee 15–20 persen dari nilai proyek. Uang tersebut tak sekadar mengalir ke kantong pribadi, tetapi diduga menjadi bahan bakar jaringan politik yang menopang kekuasaannya.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan lima tersangka, yakni:

Ardito Wijaya,( Bupati Lampung Tengah),

Riki Hendra Saputra, (anggota DPRD Lampung Tengah) ,

Ranu Hari Prasetyo, (adik kandung bupati) ,

Anton Wibowo, (Plt Kepala Bapenda),

Mohamad Lukman Sjamsuri, (Direktur PT Elkaka Mandiri).

Kelima tersangka ditahan selama 20 hari pertama hingga 29 Desember 2025. Dari balik jeruji, Ardito dikabarkan mulai kooperatif dan memberi sinyal akan membuka siapa saja pihak lain yang ikut menikmati uang haram tersebut.

Ardito Wijaya dulunya dikenal sebagai dokter muda yang berdedikasi. Ia pernah bertugas di Puskesmas Seputih Surabaya dan Rumbia, sebelum meniti karier birokrasi di Dinas Kesehatan Lampung Tengah.

Karier politiknya melesat saat terpilih sebagai Wakil Bupati pada 2020, lalu empat tahun kemudian merebut kursi bupati dengan dukungan PDIP. Namun, ambisi politiknya terus bergerak.

Pada Agustus 2025, Ardito pindah ke Partai Golkar dan dipercaya sebagai Wakil Ketua Bapilu Wilayah Lampung 2. Langkah politik yang dinilai strategis itu kini justru menjadi bayang-bayang gelap yang menyeretnya ke pusaran perkara hukum.

Bayang-Bayang Politik Uang

Kini, KPK menelusuri apakah dana suap tersebut juga mengalir ke partai pengusung dan tim pemenangan. Jika dugaan ini terbukti, kasus Lampung Tengah berpotensi menjadi salah satu skandal politik terbesar di Lampung dalam satu dekade terakhir.

Sementara itu, elite politik di Jakarta memilih diam, seolah menunggu badai berlalu.

Satu hal yang menjadi sorotan publik bahwa uang haram yang dulu mengalir diam-diam kini berubah menjadi arus deras yang siap akan menyeret siapa pun yang terlibat didalamnya.

(Trimo Riadi & Team)

Berita Terkait

Peringati Isra Mi’raj, Jhony Antony Ajak Umat Islam Perkuat Iman dan Persatuan Bangsa
𝗞𝗼𝗿𝗲𝗺 𝟬𝟰𝟯/𝗚𝗮𝘁𝗮𝗺 𝗚𝗲𝗹𝗮𝗿 𝗥𝗔𝗧 𝗞𝗲-𝟱𝟬 𝗞𝗼𝗽𝗲𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗞𝗼𝗻𝘀𝘂𝗺𝗲𝗻 𝗣𝗿𝗶𝗺𝗲𝗿 𝗞𝗮𝗿𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗚𝗮𝗿𝘂𝗱𝗮 𝗛𝗶𝘁𝗮𝗺
Sidak Ruang Pelayanan SIM, SPKT, Penjagaan dan Tahanan, Kapolres Selayar Tegaskan SOP dan Tak Ada Pungli
Salah Satu Toko Bangunan Di Desa Bangko Pintas Terbakar, Warga Kesal Tidak Ada Fasilitas Damkar Di Kecamatan Muara Tabir Kab. Tebo
Ponpes Modern Cendikia Qurani Tebo Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Pagar Nusa Trisula Cup 2026
Bersama Warga, Briptu Irvan Perkuat Keamanan Lewat Ronda Malam di Kelurahan Simbarwaringin
Lapas Tebing Tinggi Melaksanakan Pemeliharaan Senjata Api, Perkuat Keamanan dan Kesiapan Petugas
Pemotongan Dana Bansos di Laporkan Ke Polres Madina.

Berita Terkait

Jumat, 16 Januari 2026 - 13:00 WIB

Peringati Isra Mi’raj, Jhony Antony Ajak Umat Islam Perkuat Iman dan Persatuan Bangsa

Jumat, 16 Januari 2026 - 11:49 WIB

Sidak Ruang Pelayanan SIM, SPKT, Penjagaan dan Tahanan, Kapolres Selayar Tegaskan SOP dan Tak Ada Pungli

Jumat, 16 Januari 2026 - 11:14 WIB

Salah Satu Toko Bangunan Di Desa Bangko Pintas Terbakar, Warga Kesal Tidak Ada Fasilitas Damkar Di Kecamatan Muara Tabir Kab. Tebo

Jumat, 16 Januari 2026 - 11:03 WIB

Ponpes Modern Cendikia Qurani Tebo Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Pagar Nusa Trisula Cup 2026

Jumat, 16 Januari 2026 - 09:50 WIB

Bersama Warga, Briptu Irvan Perkuat Keamanan Lewat Ronda Malam di Kelurahan Simbarwaringin

Berita Terbaru