Pemanen Kebun Rambutan Bertaruh Nyawa Dalam Bekerja, Demi Mengejar Produksi.

Selasa, 24 Februari 2026 - 14:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sergai –  MBS – PTPN IV regional 1, Kebun Rambutan Pertaruhkan nyawa karyawan pemanennya demi mengejar produksi, tanpa menghiraukan keselamatan karyawannya dalam bekerja, hal tersebut terlihat ketika karyawan PKWT pemanen lagi memanen sawit dibawah jaringan listrik tegangan tinggi tanpa menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) yang baik, lengkap dan benar, Selasa (24/02/2026).
Hal tersebut didapati awak Media ketika karyawan PKWT pemanen lagi memanen dibawah jaringan listrik tegangan tinggi di Afdeling VII, Kebun Rambutan, tepatnya di pinggir Jalinsum Medan – T. Tinggi, Desa Sei Bamban kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Sergai, pada hari Kamis, 19 Februari 2026.
Dan ketika awak Media tanya siapa namanya, pemanen tersebut menjawab, namanya Doni, Mandor nya Cipto dan Asisten nya Saragih. Dan ketika ditanya kembali kok tidak pake APD ketika memanen di bawah jaringan listrik tegangan tinggi, “gimana ya bang, karena kami disuruh kerja, ya kerjakan aja, soal APD kami nggak tau,” Jawabnya, meskipun terlihat pemanen tersebut memakai sepatu boot yang masih baru, tetapi tanpa pakai helm, kaca mata, sarung tangan dan fiber glas yang spesial untuk manen dibawah jaringan listrik tegangan tinggi.
Apa yang ditemukan awak Media tersebut, itu tentu sangat berbahaya bagi pemanen, karena tidak menggunakan APD yang benar dan lengkap, karena bisa fatal akibatnya bahkan bisa kehilangan nyawa taruhannya, tentu disini pihak Management Kebun Rambutan salah besar karena tidak menjalankan Sistem Management Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan perusahaan PTPN IV, khususnya di regional 1.
Sedangkan SOP (Standar Operating Prrocedure) PTPN IV, khususnya regional 1, Kebun Rambutan, dalam memanen kelapa sawit dibawah atau di dekat jaringan listrik tegangan tinggi/menengah (SUTET/SUTM) berfokus pada keselamatan kerja (K3) yang ketat guna untuk menghindari serangan listrik fatal.
Berikut adalah poin – poin utama SOP PTPN IV terkait dalam memanen dibawah jaringan listrik tegangan tinggi/menengah :
1. APD Pemanen yaitu wajib menggunakan helm safety, kaca mata pelindung, sarung tangan, sepatu boots serta alat egrek atau dodos fiber glas yang isolator.
2. APD Mandor yaitu, helm, sepatu boots dan tas P3K.
Dan pada saat kerja panen, pemanen wajib diawasi oleh Mandor guna untuk memastikan prosedur tersebut dipatuhi, namun kenyataannya Mandor tidak ada terlihat ketika pemanen sedang bekerja memanen dibawah jaringan listrik tegangan tinggi di afdeling VII tersebut, tentu hal tersebut sudah sangat fatal apa yang sudah dilakukan oleh pihak Kebun Rambutan, khususnya di afdeling VII.
Sehingga diharapkan dengan adanya berita ini, pihak Management Holding PTPN, khususnya regional 1, agar mengambil tindakan tegas terhadap Manager Kebun Rambutan dan jajarannya karena telah mengabaikan keselamatan karyawannya karena tidak menjalankan SMK3, yang telah ditetapkan.
Dan juga Dinas ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Sergai agar segera menindak lanjuti temuan tersebut, sebelum hal – hal yang tidak diinginkan terjadi. Karena hal tersebut menandakan lemahnya pengawasan pihak Management Kebun Rambutan dalam melaksanakan SMK 3. (Syahrial)

Berita Terkait

IPAL Tidak Berfungsi Dengan Baik, Limbah Lateks di TPH Afdeling I Kebun Tanah Raja, yang Diduga Mengandung B3, Dibuang ke Jalan.
PTPN IV Plamco Berpotensi Merugi Besar Karena Banyak Buah Sawit Matang Tidak Dipanen dan Berondolan Banyak yang Tidak Dikutip di Afdeling III Kebun Rambutan.
Masyarakat Menantikan Hasil Laboratorium Mengenai Limbah Dua Kilang Ubi yang Diduga Mencemari Aliran Parit Hingga Sungai Liberia.
Sahrial Sekretaris Gapoktan Desa Sukadame Berbohong Ketika Dikonfirmasi Mengenai Oplah Sawah Non Rawa.
Masyarakat Petani Desa Pematang Guntung Keluhkan Sawah yang Kering Karena Tidak Optimalnya Irigasi yang Sudah Ada.
Izin Kilang Ubi yang Diduga Menyebabkan Pencemaran di Sungai Liberia Dipertanyakan Publik.
Kades Desa Simpang Empat Enggan Bersuara Ketika Dikonfirmasi Terkait Polemik Limbah Kilang Ubi.
Muliono Kades Sei Rejo Diduga Berbohong Ketika Ditanya Mengenai Perkembangan Masalah Penutupan Saluran Aliran Irigasi.

Berita Terkait

Selasa, 24 Februari 2026 - 14:24 WIB

Pemanen Kebun Rambutan Bertaruh Nyawa Dalam Bekerja, Demi Mengejar Produksi.

Senin, 23 Februari 2026 - 01:23 WIB

IPAL Tidak Berfungsi Dengan Baik, Limbah Lateks di TPH Afdeling I Kebun Tanah Raja, yang Diduga Mengandung B3, Dibuang ke Jalan.

Sabtu, 21 Februari 2026 - 09:47 WIB

PTPN IV Plamco Berpotensi Merugi Besar Karena Banyak Buah Sawit Matang Tidak Dipanen dan Berondolan Banyak yang Tidak Dikutip di Afdeling III Kebun Rambutan.

Kamis, 5 Februari 2026 - 06:27 WIB

Masyarakat Menantikan Hasil Laboratorium Mengenai Limbah Dua Kilang Ubi yang Diduga Mencemari Aliran Parit Hingga Sungai Liberia.

Jumat, 30 Januari 2026 - 11:12 WIB

Sahrial Sekretaris Gapoktan Desa Sukadame Berbohong Ketika Dikonfirmasi Mengenai Oplah Sawah Non Rawa.

Berita Terbaru