Padangsidimpuan —MBS
Pusat Koordinasi Nasional (PKN), Pusat Koordinasi Daerah (PKD) MAPALA Tingkat Perguruan Tinggi Se-Indonesia. menggelar talkshow bertajuk “Ada Apa dengan Hutan Tapanuli?” sebagai bentuk refleksi dan aksi nyata MAPALA se-Indonesia pasca bencana banjir dan longsor yang melanda Pulau Sumatera, khususnya wilayah Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Kampus Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur pemerintah daerah, lembaga teknis kehutanan, kebencanaan, hingga akademisi dan mahasiswa pecinta alam dari berbagai daerah di indonesia.
Talkshow ini menghadirkan narasumber dari BKSDA Wilayah III Padangsidimpuan, UPT KPH X Padangsidimpuan, BPBD Tapanuli Selatan, Dinas Lingkungan Hidup Tapanuli Selatan, Tim Survey MAPALA Se-Indonesia.
Diskusi berlangsung dinamis dengan menyoroti kondisi terkini Hutan Tapanuli, yang dinilai mengalami tekanan serius akibat deforestasi, alih fungsi lahan, serta lemahnya pengawasan kawasan hutan.
Pemaparan Tim Survey MAPALA Se-Indonesia menjelaskan tentang data survey, banyaknya titik longsor, pembukahan lahan, penyebab banjir, tumpukan kayu hulu sungai serta diskusi masyarakat setempat, lambatnya penanganan darurat bencana, kurangnya perhatian pemerintah terhadap bantuan akses jalan, dan listrik sampai hari ini belum baik.
Perwakilan BKSDA Wilayah III Padangsidimpuan dalam sesi tanya jawab menjelaskan bahwa Hutan Tapanuli merupakan kawasan strategis dengan keanekaragaman hayati tinggi, termasuk habitat Orangutan Tapanuli yang sangat terancam punah. BKSDA Wilayah III Padangsidimpuan menyampaikan langkah awal mengidentifikasi dan menegaskan keterbatasan anggaran dan keterbatasan personil. pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi mahasiswa dalam menjaga kawasan konservasi dari aktivitas ilegal yang merusak hutan.
Sementara itu, UPT KPH X Padangsidimpuan menyoroti persoalan tata kelola hutan produksi dan lindung. Pihak KPH menyampaikan bahwa tekanan terhadap hutan sebagian besar berasal dari praktik pembukaan lahan. Dalam sesi diskusi, KPH X mendorong penguatan peran pengawasan berbasis masyarakat serta perlunya edukasi ekologis secara masif, khususnya kepada generasi muda serta keterbatasan anggaran dan keterbatasan personil.
Dari sisi kebencanaan, BPBD Tapanuli Selatan menekankan bahwa mitigasi bencana tidak cukup hanya dengan penanganan darurat, tetapi harus dimulai dengan sosialisasi ancaman bahaya desa tangguh bencana, early warning system, pra bencana (pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan) untuk mengurangi risiko, dan pasca-bencana (rehabilitasi, rekonstruksi) untuk memulihkan kondisi serta keterbatasan anggaran dan keterbatasan personil sehingga berkolaborasi dengan dunia usaha, Mahasiswa, dan TNI,Polri.
Dinas Lingkungan Hidup Tapanuli Selatan, menyampaikan, pemanfaatan kayu untuk huntara/hubtap, pengelolaan sampah reboisasi, penghijauan penanaman pohon,peringatan penebangan liar, dan keterbatasan anggaran dan keterbatasan personil.
Dinas Lingkungan Hidup Tapanuli Selatan menegaskan pentingnya sistem informasi serta mendorong keterlibatan aktif MAPALA, Pencinta Alam,NGO dalam pengawasan lingkungan dan sosialisasi ke masyarakat.
Sesi tanya jawab juga diwarnai pertanyaan kritis dari peserta, terutama Mahasiswa Pencinta Alam, terkait akses data ke KPH X, Konflik Orang Utan ke BKSDA WIL.III, rekonstruksi terhadap BPBD Tapanuli Selatan, Peran Pemerintah terhadap Tambang Ilegal.
Peserta menegaskan bahwa bencana ekologis bukan semata bencana alam, melainkan akibat dari krisis tata kelola lingkungan.
Menutup kegiatan Pusat Koordinasi Nasional (PKN) Pusat Koordinasi Daerah (PKD) MAPALA Perguruan Tinggi se-Indonesia, menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu Hutan Tapanuli melalui advokasi, edukasi, aksi lapangan, dan mengawal manajemen keterbatasan anggaran dan keterbatasan personil dari pemerintah, BKSDA Wilayah III Padangsidimpuan, UPT KPH X Padangsidimpuan, BPBD Tapanuli Selatan, Dinas Lingkungan Hidup Tapanuli Selatan, serta menyampaikan bantuan terhadap aksi kemanusiaan pembangunan musholla MAPALA Se-Indonesia di Desa Tolang Julu, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Talkshow ini diharapkan menjadi ruang konsolidasi lintas sektor serta pemantik kesadaran kolektif bahwa penyelamatan Hutan Tapanuli adalah tanggung jawab bersama.









