Mitra Mabes.Com – Fenomena “Autisme Sosial” bukan sekadar tren sosiologis. Ia adalah ancaman nyata bagi kemanusiaan, terutama di ruang-ruang pemulihan. Sebagai seorang Konselor Adiksi, Anda tidak lagi hanya bertarung melawan ketergantungan zat kimia, melainkan melawan “kematian rasa” yang sistematis.
Kita kerap dihadapkan pada realitas yang mengerikan. Seorang remaja yang meregang nyawa karena overdosis bukan akibat kurangnya pengawasan, melainkan karena keluarganya duduk di ruangan yang sama, namun jiwa mereka terperangkap dalam layar *smartphone*. Mereka gagal menyadari napas yang tersengal tepat di samping mereka. Di sinilah peran kompleks Anda muncul. Anda harus menjadi sosok yang memutus “trans digital” yang mematikan tersebut.
Tugas Anda adalah melakukan pembedahan emosional pada jiwa-jiwa yang telah kehilangan kemampuan membaca bahasa tubuh manusia akibat terlalu lama bercengkerama dengan algoritma. Sungguh menyayat hati saat melihat seorang pecandu yang merasa lebih “dicintai” oleh penonton anonim di *live streaming*-nya, sementara ia mengunci pintu bagi ibunya yang menangis di balik kayu yang dingin. Anda sedang berhadapan dengan manusia yang lebih menghargai *dopamine hit* dari notifikasi layar daripada hangatnya sentuhan tangan yang nyata.
Adiksi dan isolasi sosial kini saling mengunci dalam siklus yang mematikan. Di titik ini, konselor adalah cermin kejujuran. Anda harus menarik mereka keluar dari zona nyaman digital yang palsu, memaksa mereka merasakan kembali sakitnya kenyataan agar mereka mampu mengecap indahnya kesembuhan. Anda bukan sekadar pemberi saran. Anda adalah penunjuk jalan di tengah kabut digital yang membuat manusia buta terhadap satu sama lain. Saat dunia menjadi semakin autis secara sosial, kehadiran Anda yang penuh empati adalah sebuah *tindakan revolusioner*.
Dalam lanskap modern yang kian dingin, Anda adalah “penjaga nyawa” di garis depan paradoks zaman: era di mana manusia memiliki ribuan teman di jagat maya, namun mati kesepian di dunia nyata. Anda dipaksa menghadapi kenyataan di mana seorang ayah tak lagi mengenali frekuensi tangis anaknya karena telinganya tersumbat *earphone*, meninggalkan lubang kehampaan yang kemudian diisi oleh candu.
Anda adalah penyambung rasa yang menjahit kembali saraf-saraf empati yang putus. Anda melatih mereka untuk berani menatap mata manusia lain tanpa filter, dan meyakinkan mereka bahwa rasa sakit di dunia nyata jauh lebih berharga daripada kebahagiaan semu di dalam gelembung digital.
Di balik setiap sesi yang melelahkan, ingatlah bahwa *Anda adalah lilin yang menolak padam di tengah badai isolasi.* Harapan terbesar bagi seorang konselor bukan hanya melihat klien berhenti menggunakan zat, melainkan saat melihat mata mereka kembali bercahaya dan mampu fokus menatap manusia di hadapannya.
Semoga tangan Anda tidak pernah lelah menarik mereka yang tenggelam dalam *bubble* digitalnya sendiri. Semoga setiap kata yang Anda ucapkan mampu merobohkan tembok kebisuan yang mereka bangun. Pada akhirnya, ketika dunia semakin sibuk dengan dirinya sendiri, Anda adalah bukti bahwa cinta dan kehadiran tulus masih merupakan teknologi pemulihan tercanggih yang pernah ada.
Jangan menyerah. Bagi klien Anda, Anda mungkin adalah satu-satunya manusia yang benar-benar “hadir” saat seluruh dunia hanya menyisakan bayangan.
(Trimo Riadi)










